March 27th, 2008 by kangsadat
Islam
merupakan agama yang sempurna, yang menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya,
mulai dari perkara yang ringan sampai perkara yang besar. Termasuk dalam hal ini adalah yang berhubungan dengan pergaulan. Islam juga telah
mengaturnya. Sehingga kita tidak terjatuh pada perbuatan-perbuatan yang
menjauhkan kita dari syari’at.
Sudah menjadi
cita-cita setiap mahluk untuk mendapatkan ridho dari Alloh dan menjadi orang
yang bertaqwa. Semua ini dapat diperoleh apabila kita telah melaksanakan
hak-hak Alloh dan hak-hak sesame manusia.
Rosululloh
adalah suri tauladan bagi kita. Karena tidaklah Rosululloh diutus kecuali untuk
mengajarkan kepada kita mengenai syari’at yang di dalamnya terdapat semua kebaikan,
untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Bergaul dengan
adab merupakan bagian dari akhlaqul karimah. Dan ini merupakan akhlak
yang terpuji. Tidaklah Alloh memuji sesuatu hal kecuali Alloh mencintai hal
tersebut. Dan jika Alloh mencintai seseorang maka seluruh penduduk langit akan
mencintainya termasuk Malaikat Jibril. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam,“Sesungguhnya jika
Alloh mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata,‘Sesungguhnya
Aku mencintai si Fulan, maka cintailah ia’. Lalu Jibril mencintainya dan
menyeru kepada penduduk langit,‘Sesungguhnya Alloh mencintai si Fulan, maka
cintailah ia’. Maka mereka (penduduk langit) mencintainya. Kemudian ia menjadi
orang yang diterima di muka bumi” (HR,
Bukhori dan Muslim).
Adapun
bagaimana adab kita dalam bergaul terhadap sesama:
- Memberi dan menjawab salam.
- Pada saat ada seseorang berbicara, kita tidak
serta-merta langsung memotong pembicaraan orang tersebut.
- Tidak mengatakan sesuatu yang tidak disukainya,
kecuali hal tersebut untuk amar ma’ruf nahi munkar. Misalnya dengan
memberikan julukan-julukan (nama-nama) yang jelek. Karena jika Engkau
menginginkan seorang teman yang terbebas dari kesalahan, dan selalu
berbuat benar, maka Engkau tidak akan pernah mendapatkannya.
- Mengatakan hal-hal yang disukainya, untuk mengambil
manfaat dari orang tersebut. Misalnya memujinya jika melihat kebaikan yang
dilakukannya dan ia layak mendapatkan pujian tersebut.
- Jika ada orang yang berbuat baik kepadamu, maka
ucapkanlah terima kasih kepada orang tersebut. Jika ada seseorang yang
menjelek-jelekan sahabatmu, maka kamu harus menetralisir.
- Memberikan nasihat secara lemah lembut dan
memaafkan keselahannya jika sahabat kita melakukan kesalahan.
- Mendoakan sahabat kita baik ketika masih hidup dan maupun
ketika dudah meninggal.
- Tidak membebani dan memberi keringanan, yaitu
dengan memenuhi hak-haknya sebagai sahabat. Misalnya memenuhi kebutuhan
sahabatnya tanpa diminta. Atau mendahulukan kebutuhan sahabatnya daripada
kebutuhannya sendiri. Tingkatan ini merupakan tingkatan yang paling
tinggi.
- Setia dan tulus, Walaupun sahabat kita telah
meninggal dunia, kita tetap mencintainya sebagaimana ketika ia masih hidup. [Wali Sabara]
Posted in Uncategorized | No Comments »
March 15th, 2008 by kangsadat
- Takut akan datangnya kematian secara
tiba-tiba sebelum taubat.
- Takut
tidak dapat menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak
Allah itu pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.
- Takut
tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan
dan jalan syetan.
- Takut
memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah kepada diri Anda.
- Takut
akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang Anda
lakukkan.
- Takut
terbongkarnya aib, akibat perbuatan buruk yang Anda lakukan.
- Takut
mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah.
- Takut
menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.
- Takut
menghadapi pertanyaan malaikat Mungkar dan Nakir di alam kubur.
- Takut
akan azab dan kedahsyatan di alam kubur.
- Takut
menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil.
- Takut
melewati titian shirath yang tajam. Sesungguhnya titian shirath itu lebih
halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang.
- Takut
menghadapi siksa yang sangat pedih.
- Takut
dijauhkan dari jannah, tempat kenikmatan yang abadi.
- Takut
dijauhkan dari memandang wajah Allah.
- Anda
harus mengetahui dosa dan aib Anda.
- Ma’rifah
Anda kepada Allah yang Anda rasakan siang dan malam sedang Anda tidak
bersyukur.
- Takut
tidak diterima amalan dan ucapan Anda.
- Takut
bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan Anda sendiri.
- Kekhawatiran
Anda menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada saat
mizan ditegakkan.
- Hendaknya
anda menyerahkan urusan diri Anda, anak-anak Anda, keluarga, suami, dan
harta Anda kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan janganlah bersandar dalam
memperbaiki urusan ini kecuali hanya kepada Allah.
- Sembunyikanlah
amal-amal Anda dari sifat riya’ ke dalam hati Anda, seringkali sifat riya’
itu memasuki hati Anda sedang Anda tidak merasakannya. Hasan al-Bashri
Rahimahullah pernah berkata, ”Berbicaralah wahai engkau diri, dengan
ucapan orang shalih yang qona’ah lagi ibadah. Sedang engkau mengerjakan
amalan orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang yang
mukhlish.
- Jika
Anda ingin sampai pada derajat ikhlas, maka hendaknya akhlakmu seperti
akhlak seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya dan mencacinya.
- Hendaknya
Anda memiliki sifat cemburu ketika larangan Allah dilecehkan.
- Ketahuilah
bahwa amal shalih namun dengan sedikit dosa lebih disukai Allah dari pada
amal shalih yang banyak namun diiringi dengan dosa yang banyak pula.
- Ingatlah
setiap Anda sakit bahwa Anda telah istirahat dari dunia dan akan menuju
akhirat dan akan menemui Allah dengan amalmu yang buruk.
- Hendaknya
ketakutan Anda kepada Allah menjadi jalanmu menuju Allah selama Anda
sehat.
- Setiap
Anda mendengar kematian seseorang, maka perbanyaklah mengambil pelajaran
dan nasihat. Dan jika Anda menyaksikan jenazah, maka bayangkanlah bahwa
Anda yang sedang dihasung.
- Hati-hatilah
menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rizki kita sedang
hatinya tidak tentram kecuali dengan adanya sesuatu yang ia kumpulkan. Dan
menyatakan bahwa sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang
kita mengumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikitpun, dan
mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.
- Lihatlah
dunia dengan pandangan i’tibar (penuh mengambil pelajaran) bukan dengan
pandangan mahabbah (rasa cinta) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.
- Ingatlah
bahwa Anda sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah Anda
sanggup menghadapi panasnya api neraka jahannam?
- Diantara
akhlak sesama mukminah adalah menasihati sesama mukminah.
- Jika
Anda melihat orang yang lebih besar dari Anda maka muliakanlah ia dan
katakanlah, ”Anda telah mendahului saya dalam Islam dan amal shalih, maka
dia jauh lebih baik di sisi Allah.” Sedangkan jika melihat orang yang
lebih muda usianya, maka katakanlah kepadanya, ”Anda keluar ke dunia setelah
saya, maka dia lebih sedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari
saya di sisi Allah.”
Posted in Renungan | 1 Comment »